REFORMASI GEREJA REFORMASI

‘Menakar’ Semangat Reformasi melalui Peningkatan Sumber Daya Manusia di GKPS

Pdt. Dr. Jan Hotner Saragih

 

 

Pengantar

Lima ratus tahun sudah gerakan reformasi Martin Luther digulirkan. Tidak sedikit gereja yang sudah berbenah dalam berbagai hal, dalam rangka menghidupi semangat reformasi Martin Luther. Tidaklah berlebihan jika disebut kalau Luther adalah epitom dari gerakan reformasi. Luther adalah reformator pertama yang sangat serius menekankan reformasi teologis, dimana ia menuntut perbaikan mendasar dalam ajaran gerejawi, ketimbang reformasi dalam aspek moral maupun institusional sebagaimana yang ditekankan para reformator sebelumnya. Martin Luther melihat bahwa perubahan praktik dan moral hanyalah mungkin dilakukan apabila ajaran iman kepercayaan telah dibenahi terlebih dahulu. Adanya gerakan perubahan praktek dan moral hidup, sangat dekat dengan sikap peningkatan Sumber Daya Manusia. Pokok pikiran ini banyak menjiwai gerakan reformasi gereja. Bahkan Yohanes Calvin (seorang teolog Kristen terkemuka pada masa Reformasi Protestan yang berasal dari Perancis. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme) dan Huldrych Zwingli atau Ulrich Zwingli (seorang pemimpin Reformasi di Swiss) pun berhutang inspirasi dari perjuangan dan ajaran Martin Luther.

Setelah 500 tahun reformasi berlangsung, lalu bagaimana semangat ini dapat tetap diwariskan gereja? Khususnya bagi GKPS dalam keterkaitannya dengan upaya peningkatan Sumber Daya Manusia yang lebih berkualitas; apa saja yang patut dilakukan gereja dan warga? Sebab pada dasarnya tidak ada kata ‘selesai’ bagi pelaksanaan reformasi gereja; ecclesia reformata, semper reformanda  (“Gereja yang telah direformasi adalah Gereja yang (harus) terus-menerus diperbarui”) Bahwa gerakan dan semangat reformasi akan dilakukan secara terus menerus dan dalam berbagai hal kehidupan bergereja. Di bawah ini disajikan secuil tulisan berkaitan dengan refleksi guna mengukur (menakar) semangat reformasi dan upaya peningkatan Sumber Daya Manusia dalam perjalanan pelayanan GKPS.

 

Reformasi dan Peningkatan Sumber Daya Manusia di GKPS

Dalam perjuangannya, Martin Luther banyak mengecam keburukan-keburukan yang ada di dalam gereja, terutama masalah penyelewengan surat penghapusan siksa dan sistem kepausan. Luther juga menyerang ajaran substansiasi (pemahaman tentang hakekat Perjamuan Kudus yang dianut oleh Gereja Katolik Roma), kehidupan selibat para klerus (klerus adalah istilah bagi para pejabat gereja), dan menuntut penghapusan kuasa Paus atas Jerman. Hampir seluruh perhatian gerakan reformasi Luther berkaitan dengan sumber daya manusia pada saat itu. Demikianlah gerakan ini menjadi awal terjadinya gerakan besar pembaruan gereja. Namun bagaimana semangat reformasi itu dapat diwariskan oleh gereja pada saat ini, terutama bagi GKPS dan warganya?  Apa yang sedang direformasi GKPS (dan warganya) pada saat ini?

Salah satu unsur penting dalam pandangan Luther tentang Gereja adalah keyakinannya yang kuat tentang imamat semua orang percaya. Semangat reformasi Luther menggemakan 1 Petrus 2:9 yang mengatakan “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus.’[1] Ungkapan ini ingin menyebutkan; betapa pentingnya Sumber Daya Manusia. Instrument penting gerakan reformasi Luther adalah peningkatan Sumber Daya Manusia dari umat percaya. Bahwa anggota jemaat GKPS yang telah menjadi bangsa terpilih, imamat yang rajani dan bangsa yang kudus. Dari sini, gerakan reformasi Luther akhirnya sampai kepada pentingnya untuk melakukan peningkatan terhadap Sumber Daya Manusia dan spiritualitas dari anggota jemaat.

 

Reformasi SDM dan ‘ahap marmalu

Arah dan tujuan reformasi yang dilakukan oleh Luther, selalu terkait dengan nilai-nilai potensi umat percaya. Bagaimana umat beriman memperbaiki keberadaannya di hadapan Tuhan dan dihadapan sesamanya. Salah satu nilai keselarasan semangat gerakan reformasi Luther, adalah upaya memperbaiki keberadaan hidup bergereja. Semangat reformasi akan menemukan tempatnya pada konteks nyata kehidupan umat. Saat ini, GKPS diharapkan dapat menemukan konteks nyata hidup bergereja. Meningkatkan nilai-nilai keunggulan yang ada dan yang selalu terpelihara. Salah satunya, nilai dari ‘ahap marmalu’. Sudah saatnya GKPS mengingat kembali filosofi Simalungun ahap marmalu. Warisan leluhur ini diharapkan dapat menjadi sarana mereformasi Sumber Daya Manusia warga GKPS. Potensi apa yang sedang atau sudah dikembangkan, dalam rangka meningkatkan keberadaan GKPS di tengah-tengah negara ini. Kita patut ‘marmalu’ karena ternyata masih belum banyak warga GKPS yang memiliki potensi unggulan. Dari sekitar dua ratus ribuan warganya, masih sedikit yang telah menjadi pejabat pemerintahan, tokoh dalam bidang tertentu (ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, militer, kepolisian dan sebagainya). GKPS dan warganya diharapkan mereformasi diri melalui tingkat kesejahteraannya, melalui ahap marmalu. Bagaimana gereja (GKPS beserta warganya) mempersiapkan gerakan ‘marmalu’ untuk kondisi yang sedang berlangsung pada saat ini. Menyediakan kader-kader GKPS agar dapat memiliki SDM tinggi sehingga layak menjadi tokoh yang dapat mengangkat harkat dan martabat GKPS di tengah-tengah negara ini. Filosofi hidup dari salah seorang  founding father GKPS yang mengatakan ‘Siparutang do ahu bani halak Simalungun’, telah memberikan banyak perubahan di tengah-tengah kehidupan warga GKPS. Tentu kesadaran akan pentingnya melakukan (dan memberikan) sesuatu bagi GKPS juga adalah bagian dari ahap marmalu. Bahwa ternyata GKPS masih tertinggal oleh gereja (dan suku) lainnya, dalam rangka mempersiapkan kader yang berkualitas. Masih sangat minim ditemukan adanya program kerja yang berkaitan dengan rencana ini.

Semangat reformasi memotivasi GKPS untuk mempersiapkan calon-calon pemimpi(n) masa depan dengan menata kembali seluruh potensi yang ada. Apa yang telah dilakukan GKPS (mulai dari tingkat sektor, jemaat, resort, distrik maupun tingkat Pusat), dalam rangka mendukung pendidikan anak-anak jemaat yang berprestasi agar semakin mampu berkompetisi dalam dunia ini. Tidak sedikit anggota jemaat GKPS mampu bersaing dan masuk dalam perguruan tinggi favorit untuk level Sarjana dan Pascasarjana. Namun mayoritas dari mereka yang berprestasi, adalah buah dari perjuangan pribadi; gereja dan warganya masih belum maksimal ikut serta menanamkan kesadaran ‘siparutang do ahu bani halak Simalungun.

Dari analisa di atas menunjukkan bahwa peran semangat reformasi masih harus perlu digali lagi dalam perjalanan kekristenan di Simalungun (GKPS). Hal ini dapat dipahami, mengingat pergulatan dan transformasi utama lebih diarahkan kepada nasib dan masa depan komunitas etnik Simalungun dan warga GKPS. Namun demikian, perlu tumbuh kesadaran bahwa ketika Injil yang diperdengarkan selanjutnya menumbuhkan iman; maka sudah menjadi kewajiban untuk mengemukakan buah dari teologi melalui kehidupan sehari-hari. Iman yang bersumber dari Firman Tuhan (melalui semangat reformasi), seharusnya menemukan ‘daging’-nya dalam dunia kebudayaan dan tradisi setempat. Arah reformasi yang seperti ini diharapkan menjadi alternatif baru dalam rangka menyapa kehidupan warga GKPS yang berlatar belakang etnik Simalungun (dalam konteks SDM-nya).

Kebutuhan akan lahir dan berkembangnya semangat reformasi ini, juga diharapkan menjadi ‘obat’ untuk menyembuhkan kecenderungan sikap (maupun pemahaman) warga GKPS dalam hidup bergereja. Ketika masyarakat Simalungun cenderung membagi kenyataan hidup; antara persoalan rohani dan masalah jasmani. Injil hanya berhubungan dengan ritus keagamaan, sementara budaya berkaitan dengan realita hidup yang sebenarnya. Semangat reformasi Sumber Daya Manusia dari warga GKPS membawa kekuatan Injil tidak hanya dalam rangka menggerakkan hati, namun juga untuk raga, budaya dan tradisi hidup warga GKPS.

Adalah sebuah kemustahilan jika kultur Simalungun (di)lepas dari GKPS dan bukan sebuah tujuan iman jika GKPS hanya sekedar menjadi perkumpulan yang asing dari masyarakatnya. GKPS dan Sumber Daya Manusia yang ada di dalamnya, harus menjadi tempat perayaan iman Kristen maupun tradisi budaya dari anggotanya. Diharapkan adanya perjumpaan yang kreatif, di mana Injil mentransformasikan tradisi dan budaya Simalungun; demikian pula tradisi dan budaya Simalungun berperan menyatakan dengan nyata (illuminate) Injil dalam hidup warga GKPS bahkan melalui peningkatan Sumber Daya Manusia dari warganya.

Dengan semangat mengupayakan kontekstualisasi teologi ini, kesadaran GKPS diharapkan sampai pada apa yang dahulu pernah diucapkan oleh salah seorang founding father GKPS, Pdt. Jenus Purbasiboro. Ucapan yang disampaikan saat peristiwa bersejarah dialami oleh GKPS, yaitu proses panjaeon (lepasnya GKPS dari HKBP) pada tahun 1963. Kutipan kalimat yang menyebutkan: “… Tujuan kita untuk berdiri sendiri (manjae), tidak lain adalah agar kita semakin bertanggungjawab menghargai dan menyaksikan karya penyelamatan Kristus yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita, orang Simalungun”. Tanggungjawab yang bagaimana yang telah dilaksanakan sampai pada saat ini? Memang patut disyukuri jika perubahan hidup warga GKPS pada saat ini, telah menjadi indikator penting dari keberhasilan Injil bagi warga GKPS dan di tanah Simalungun. Namun di sisi lain, masih ada banyak kesempatan yang terlewatkan seandainya semangat reformasi juga terkait dengan upaya atas sikap tanggungjawab GKPS dalam menghargai dan menyaksikan karya penyelamatan Kristus yang telah kita terima selama ini. Bukankah sudah menjadi sebuah realita, jika mayoritas kesejahteraan warga jemaat masih sangat perlu mendapat perhatian khusus? Bagaimana pergumulan ini dapat diselesaikan melalui upaya peningkatan sumber daya warga agar semakin memiliki keterampilan dan saing, motivasi hidup yang lebih baik dan banyak hal lain yang patut untuk semakin diperbarui.

 

Penutup

Tahun peningkatan Sumber Daya Manusia yang menjadi program utama GKPS pada tahun ini, diharapkan memberi semangat dan inspirasi dalam rangka mewujudkan gerakan reformasi gereja dan warganya. Sudah waktunya GKPS memiliki obsesi (tidak hanya sekedar siparayakon) yang jelas, bahkan untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan. Melihat dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Mempersiapkan kader-kader pemimpin atau tokoh yang berasal dari warga GKPS agar mampu dan berani untuk bersaing sebagai kompetitor. Hidup warga GKPS yang lebih berorientasi kepada by design, not by accident. Sai andohar ma!

 

Na suan ma timbahou, dua gantang sadari;

naubah ma parlahou, ulang songon sapari

 

Ulang songon halto, marlumba marurus hutoruh

 

[1] Luther, Babylonian Captivity – Luther’s Works, Jilid 36, h. 113.


Artikel Lainnya:

Category: Artikel