Oleh: Mery Chris Isabella Saragih, S.Pd., M.Si*
Di tengah era digitalisasi ini, manusia sudah tidak menjadi manusia lagi. Manusia perlu “dimanusiakan” kembali, khususnya generasi anak-anak sebagai penerus. Mengapa? Karena telah terjadi krisis karakter yang diakibatkan oleh “termakan” zaman. Kemajuan teknologi semakin menimbulkan perubahan dalam berbagai pola perilaku, tidak terkecuali kemajuan teknologi juga merambah pola perilaku dalam dunia bermain anak yang mengakibatkan “krisis karakter”. Permainan anak yang dihadirkan zaman digitalisasi ini lebih menggiring anak menjadi “operator” dan bukan menjadi “kreator”, sehingga karakter anak menjadi krisis. Jika ini dibiarkan, bagaimana nasib anak dan bangsa kita jika sudah mengalami “krisis karakter”? Salah satu metode sangat sederhana yang dapat penulis sumbangkan adalah melalui pembentukan karakter berbasis kearifan lokal dengan mendekatkan anak kembali ke dunia “permainan tradisional”.

1. Fenomena Krisis Karakter Anak yang Diakibatkan oleh Zaman Digitalisasi
Zaman semakin canggih, semua serba digital. Sehingga fenomena perubahan aktivitas bermain anak pada saat ini lebih sering bermain dengan permainan digital/modern yang identik dengan penggunaan teknologi seperti video games dan games on-line, serta play-station. Akibatnya, permainan anak tradisional mulai terabaikan dan menjadi asing di kalangan anak-anak. Selain itu, tingkat selera terhadap permainan modern pada anak juga semakin memasuki level tinggi, sehingga berpengaruh pada kebiasaan dan perilaku anak. Dampak yang ditimbulkannya pun sangat memprihatinkan, yakni berpengaruh pada prestasi belajar, menyebabkan anak “krisis karakter”, dan menjadikan anak berperilaku agresif, bahkan menjerumuskan anak dalam tindak kriminal seperti pencurian dan pemerkosaan, serta menyebabkan anak mengalami kepribadian ganda yang bisa berujung pada kematian.
Kesan yang melekat pada permainan digital terkadang membuat anak-anak saat ini lebih memilih untuk bermain permainan digital. Pilihan anak ini juga karena dukungan dari orang tua yang menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh anaknya. Orang tua terlalu memfasilitasi anak-anaknya. Orang tua tidak lagi memperkenalkan permainan yang dimainkannya dulu waktu mereka kecil kepada anak-anaknya. Anak-anak semakin mengimitasi action yang ada di permainan digital dan tanpa disadari hasil imitasi tersebut menjadi suatu kebiasaan. Bukan orangtua saja yang menfasilitasi anak. Saat ini, warnet-warnet telah tersebar di mana-mana yang menawarkan paket untuk game online dengan harga murah. Paket tersebut bukan hanya untuk game online, namun dapat juga digunakan untuk membuka Facebook, Youtube, serta menonton video porno. Hal ini terjadi karena kesan melekat pada permainan tersebut. Kesan modern ternyata tidak selamanya berdampak positif. Sejauh yang diamati oleh penulis, fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, permainan digital berdampak buruk pada anak. Komunikasi antara anak-anak dengan temannya atau lingkungannya pun sudah tidak terjalin lagi. Anak-anak menjadi suka menyendiri, mereka hanya sibuk menatap gadget masing-masing. Kepedulian untuk teman dan lingkungannya pun tidak ada lagi. Anak-anak sekarang ini sudah kurang “mendengar” orangtuanya. Anak-anak masuk kamar, buka buku, kunci kamar. Jika mereka dipanggil dan disuruh orangtua, maka mereka mengatakan “lagi ngerjain tugas mak”. Padahal di dalam kamar, si anak bermain game melalui gadget atau android yang dia punya. Buka itu saja. Yang paling parahnya anak-anak ”tega bermain game” atau memainkan gadget-nya saat ibadah di gereja maupun di mesjid. Hamba Tuhan berkotbah, namun sebagian kecil anak-anak sibuk memainkan gadget-nya saat ibadah berlangsung.
Di berbagai media cetak maupun elektronik saat ini marak diberitakan tentang berbagai dampak permainan digital pada anak, khususnya games online. Anak yang bermain games online tanpa adanya kontrol, khususnya dari orang tua, cenderung mengalami kecanduan. Akibatnya, sebagian besar waktu anak digunakan untuk bermain games online. Kecanduan games online menyebabkan siswa SMP dan SMA bolos sekolah dan lari ke Warnet. Fakta ini diketahui oleh penulis berdasarkan wawancara dengan Kanit Binmas Polsek Raya, Aiptu Budi. A. Silalahi pada hari kamis, 27 Oktober 2016 di Kapolsek Pematangraya. Berdasarkan hasil wawancara, beliau menjelaskan bahwa masyarakat dan orangtua resah dengan anak mereka yang sering bolos dari sekolah. Guru juga serba resah dan serba salah. Pelajar-pelajar tersebut yang mereka temukan kebanyakan bolos dari sekolah dan pergi ke warnet. Dengan kondisi yang demikian, maka pihak sekolah melakukan kerja sama dengan MUSPIKA (Musyawarah Pimpinan Tingkat Kecamatan) Raya, yaitu Camat, Kapolsek, Danramil, dan KUPTD yang berada di kecamatan Raya. Adapun kerja sama yang dilakukan adalah dengan nama “Operasi Kasih Sayang”. Operasi Kasih Sayang ini dilakukan dengan cara merazia setiap anak sekolah ke tempat mangkal/bolos pelajar, seperti warung dan warnet pada saat jam pelajaran. Saat pihak Kapolsek melakukan Operasi Kasih Sayang ini, tepat pada hari Selasa, 18 Oktober 2016 di Kecamatan Raya, ternyata kebanyakan pelajar yang bolos itu pergi ke warnet. Pihak Kapolsek menemukan pelajar-pelajar tersebut di salah satu warnet yang berada di kecamatan Raya ketika mereka sedang main game online sambil merokok. Pada saat tertangkap, siswa ini sedang mengenakan seragam sekolah. Ketika mereka selesai diproses, mereka dikembalikan ke orangtua dan ke sekolah mereka.
Di samping itu, materi games yang bermuatan kekerasan yang berpadu dengan pornografi lebih banyak diminati oleh anak-anak. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai kasus pelecehan seksual, seperti bocah 4 tahun disodomi oleh remaja umur 17 tahun yang berinisial A. Hal ini diberitakan oleh Koran Sinar Indonesia Baru (30 September 2016). Pelajar umur 17 tahun, warga Kecamatan Siantar Timur Kota Pematangsiantar ditangkap Satreskrim karena kasus cabul. Fakta ini diberitakan oleh Metro Siantar (13 Oktober 2016), dan kasus yang terjadi baru-baru ini beberapa anak nekat merampok karena butuh uang untuk bermain games online.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh KPPPA dengan Katapedia, paparan pornografi sebanyak 63.066 diperoleh melalui Google, diikuti Instagram dan news online. Sementara itu, berdasarkan data Bareskrim Polri melalui laporan NCMEC (National Center of Missing & Exploited Children), jumlah Internet Protocol (IP) Indonesia yang melakukan pengunduhan dan pengunggahan konten pornografi anak melalui media sosial pada 2016 hingga bulan Maret sebanyak 96.824 IP. Hal ini diberitakan oleh Kompas.com.
Pada tanggal 2 Oktober 2016 lalu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Bareskrim Polri menggelar kampanye keselamatan anak-anak Indonesia dari dampak buruk internet di bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan, kampanye bersama ini dilakukan sebagai wujud kepedulian dan komitmen negara untuk melindungi anak dari berbagai dampak buruk internet, seperti pornografi, prostitusi online dan cybercrime.
Di balik banyaknya dampak negatif yang telah ditimbulkan oleh permainan digital yang memiliki kesan modern ini, sebenarnya bangsa Indonesia memiliki permainan anak yang kaya akan nilai, yakni permainan tradisional. Berdasarkan hasil penelitian permainan anak tradisional dapat menstimulasi tumbuh kembang anak, bahkan dapat digunakan sebagai sarana edukasi pada anak. Hasil penelitian Kurniati (2011:13) menunjukkan bahwa permainan anak tradisional dapat menstimulasi anak dalam mengembangkan kerjasama, membantu anak menyesuaikan diri, saling berinteraksi secara positif, dapat mengkondisikan anak dalam mengontrol diri, mengembangkan sika empati terhadap teman, menaati aturan, serta menghargai orang lain. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa permainan tradisional dapat memberikan dampak yang sangat baik dalam membantu mengembangkan keterampilan emosi dan sosial anak.

2. Pembentukan Karakter Berbasis Kearifan Lokal
a. Karakter

Karakter adalah istilah yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai), yaitu menandai tindakan atau tingkah laku seseorang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang. Secara etimologis, istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yaitu kharaseein, yang awalnya mengandung arti mengukir tanda di kertas atau lilin yang berfungsi sebagai pembeda (Bohlin, 2005). Istilah ini selanjutnya lebih merujuk secara umum pada bentuk khas yang membedakan sesuatu dengan yang lainnya. Untuk itu pengertian karakter adalah sikap dan cara berpikir, berperilaku, dan berinteraksi sebagai cirri khas seorang individu dalam hidup, bertindak, dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun bangsa. “Karakter itu menjadi bagian identitas diri sendiri seseorang sehingga karakter dapat disebut sebagai jati diri atau kepribadian yang baik. Kepribadian seseorang itu terbentuk dalam proses kehidupan melalui sejumlah nilai-nilai etis yang dimilikinya, berupa pola pikir, sikap, dan perilakunya. Sebagai kepribadian, karakter telah merepresentasikan keseluruhan pribadi seseorang” (Sibarani, 2015:18). Sebenarnya istilah karakter bersifat “netral”. Bisa negatif, bisa positif, bisa baik, dan bisa juga buruk. Namun karakter yang dimaksud di sini adalah karakter yang baik sehingga kalau kita menyebutkan pembentukan karakter, itu berarti pembentukan karakter yang baik ataupun positif.

b. Karifan Lokal
Kearifan lokal merupakan nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif atau bijaksana (Sibarani, 2012:112-113). Dapat juga dijelaskan bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan asli (indigeneous knowledge) atau kecerdasan lokal (local genius) suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai kemajuan komunitas, baik dalam penciptaan kedamaian maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kearifan lokal itu mungkin berupa pengetahuan lokal, keterampilan lokal, kecerdasan lokal, sumber daya lokal, proses sosial lokal, norma-etika lokal, dan adat-istiadat lokal.
Kearifan lokal dalam tradisi budaya terbagi atas kearifan lokal yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan dan yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. Kearifan lokal untuk kesejahteraan itu antara lain (1) kerja keras, (2) disiplin, (3) pendidikan, (4) kesehatan, (5) gotong royong, (6) pengelolaan gender, (7) pelestarian dan kreativitas budaya, (8) peduli lingkungan. Sedangkan kearifan lokal untuk kedamaian antara lain (1) kesopansantunan, (2) kejujuran, (3) kesetiakawanan sosial, (4) kerukunan dan penyelesaian konflik, (5) komitmen, (6) pikiran positif, dan (7) rasa syukur
Dari uraian di atas, kearifan lokal dapat dimanfaatkan untuk pembentukan karakter generasi muda sehingga karakter itu berbasis budaya/kearifan lokal bangsa sebagai warisan leluhur. Dalam pembangunan karakter bangsa Indonesia, kearifan lokal menjadi sumber penting yang harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa. Dengan demikian, pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa. Persoalannya sekarang sejauh mana kearifan lokal itu telah dimanfaatkan untuk pembentukan karakter bangsa. “Dampak manusia berkarakter atau manusia yang mengamalkan kearifan lokal sangat besar untuk keberhasilan seorang individu, bahkan keberhasilan sebuah bangsa” (Sibarani, 2015:65).
Di tengah “krisis karakter” saat ini, kita mengharapkan karakter bangsa kita berasal dari kaerifan lokal kita sendiri sebagai nilai leluhur bangsa kita. Karakter generasi yang diharapkan adalah karakter yang berbasis kearifan lokal yang mengarah pada usaha meningkatkan kesejahteraan (kerja keras, rajin, disiplin, kreatif, inovatif, mandiri, hemat, senang belajar, hidup sehat, cinta budaya, bergotong royong, peduli lingkungan) dan kedamaian (berkomitmen, berpikir positif, sopan santun, jujur, terpercaya, rukun, toleran, kendali diri, peduli, ramah, setiakawan, bersyukur).
Pembentukan karakter berbasis kearifan lokal berarti pembangunan watak, kepribadian, dan perilaku yang cinta kesejahteraan dan cinta kedamaian. Selain itu pembentukan karakter berbasis kearifan lokal berusaha untuk membentuk karakter seseorang dengan menerapkan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam tradisi budaya bangsa. Pengenalan nilai-nilai budaya dan penjelasan mengenai peran nilai-nilai budaya tersebut untuk menyelesaikan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat sangat penting dilakukan agar genersai muda memahami manfaat praktisnya. Pembentukan karakter berbasisi kearifan lokal didasarkan pada kebiasaan dan tradisi budaya secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain. Meskipun pembahasan nilai budaya dan kearifan lokal diusahakan terpisah dari nilai agama dan kearifan religius dalam pembentukan karakter berbasis kearifan lokal, kedua hal ini tidak mungkin dipisahkan secara jelas karena tradisi budaya kita telah diwarnai dan mewarnai nilai agama. Itulah sebabnya bahwa kearifan lokal yang dimaksud di sini bersumber pada sinergi nilai budaya setempat. Dengan demikian, hubungan karakter dan kearifan lokal merupakan hubungan yang komplementer karena keduanya saling melengkapi dan saling mengisi. Karakter merupakan hasil dari pembentukan kepribadian berdasarkan unsur-unsur kearifan lokal, kearifan lokal menjadi sumber pembentukan karakter, sehingga orang yang berkarakter menerapkan nilai-nilai budaya secara arif. Salah satu sumber kearifan lokal yang bersumber pada sinergi nilai budaya adalah permainan tradisional.

3. Permainan Tradisional
Permainan tradisional anak merupakan salah satu bentuk folklore berupa permainan yang beredar secara lisan di antara anggota tradisi budaya tertentu, berbentuk tradisional, terdapat aturan main yang mengandung nilai-nilai luhur, dilakukan melalui interaksi dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Oleh karena termasuk folklore, maka sifat atau ciri dari permainan tradisional anak sudah berusia tua, tidak diketahui lagi asal-usulnya, siapa penciptanya dan dari mana asalnya, dan adakalanya mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Dalam permainan tradisional yang segala sesuatunya bersifat alamiah, dimana tidak ada setting yang dipersiapkan, anak menjadi lebih banyak mendapat kesempatan mengeksplorasi berbagai media yang tersedia secara alami sebagai dasar berpikir kreatif. Keanekaragaman jenis permainan tradisional yang menggunakan bahan alami (bambu, kertas, kayu, tanah, batang tanaman, daun-daunan, jerami, batu, dll), mampu memberikan rangsangan sensorimotor yang kaya, baik dari tekstur, ukuran berat dan bentuknya yang beragam. Adapun jenis permainannya adalah sebagai berikut:
1. Ular Naga
Permainan ini dimulai dengan nyanyian. Saat lagu sudah berhenti, anak yang berada di tengah ditangkap. Pada saat terakhir, dua orang di paling depan akan saling merebut mangsa. Nilai yang terdapat pada permainan ini adalah nilai harmonis yang berarti mengandung kearifan kerukunan.

2. Gasing
Lemparkan gasing tersebut ke tanah, dan biarkan dia berputar. Orang yang gasingnya paling lama berputar atau bisa bertahan, maka dialah yang menang. Nilai dari permainan ini adalah nilai kecerdasan yang berarti mengandung kearifan pendidikan.

3. Bongkar Pasang
Anak perempuan sangat suka bermain permainan ini karena begitu lucu dan mengasah kreativitas untuk memasangkan baju-baju pada boneka. Nilai yang terdapat dalam permainan ini adalah (1) nilai kreativitas yang berarti kearifan pendidikan, (2) nilai sungguh-sungguh yang mencakup kearifan kerja keras.

4. Tarik Tambang
Lomba menarik tali, jika tali sudah masuk ke area lawan dan orang pertama melewati batas, maka dia kalah. Nilai yang terdapat dalam permainan ini adalah (1) nilai harmonis yang mencakup kearifan kerukunan, (2) nilai tolong menolong yang berarti mencakup kearifan gotong royong, (3) nilai sungguh-sungguh yang berarti mencakup kearifan kerja keras.

5. Balap Karung
Sambil menggunakan karung, kamu harus melompat-lompat mencapai garis finish. Siapapun yang berhasil melewatinya duluan adalah juaranya. Nilai yang terdapat dalam permainan ini adalah (1) nilai ketidakcurangan yang berarti kearifan kejujuran, (2) nilai sungguh-sungguh yang berarti mencakup kearifan kerja keras, (3) nilai kecerdasan yang mencakup kearifan pendidikan, (4) nilai harmonis yang berarti mencakup kearifan kerukunan.

6. Enggrang
Kamu harus menaiki kayu tersebut dan berjalan menggunakannya sampai garis finish. Nilai yang terdapat dalam permainan ini adalah (1) nilai ketidakcurangan yang berarti kearifan kejujuran, (2) nilai harmonis yang berarti mencakup kearifan kerukunan.

7. Terompah/Bakiak
Permainan ini membutuhkan kekompakan. Dimainkan lebih dari dua orang agar semakin seru, banyak sekali yang jatuh karena kurang kompak, apalagi kaki mereka semua diikat dalam satu bakiak. Nilai yang terdapat dalam permainan ini adalah nilai kekompakan yang berarti kearifan kerukunan, (2) nilai kebersamaan yang berarti mencakup kearifan kesetiakawanan, (3) nilai sungguh-sungguh yang berarti menncakup kearifan kerja keras.

Peran Permainan Tradisional
Permainan Tradisional yang ada di berbagai belahan nusantara ini dapat menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak, seperti:

  • Aspek motorik. Melatih daya tahan, daya lentur, sensorimotorik, motoric kasar, motorik halus.
  • Aspek kognitif. Mengembangkan maginasi, kreativitas, problem solving, strategi, antisipatif, pemahaman kontekstual.
  • Aspek emosi. Katarsis emosional, mengasah empati, pengendalian diri
  • Aspek bahasa. Pemahaman konsep-konsep nilai
  • Aspek sosial. Menjalin relasi, kerjasama, melatih kematangan sosial dengan teman sebaya dan meletakkan pondasi untuk melatih keterampilan sosialisasi berlatih peran dengan orang yang lebih dewasa/masyarakat.
  • Aspek spiritual. Menyadari keterhubungan dengan sesuatu yang bersifat Agung (transcendental).
  • Aspek ekologis. Memahami pemanfaatan elemen-elemen alam sekitar secara bijaksana.
  • Aspek nilai-nilai/moral. Menghayati nilai-nilai moral yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya.

Tempalah karakter sedini mungkin, agar tidak termakan oleh zaman.

*Penulis adalah pemuda GKPS Hapoltakan Raya, bekerja sebagai dosen di Universitas HKBP Nomensen Pematangsiantar dan Universitas Efarina Pematangraya.


Artikel Lainnya:

Category: Artikel