Pimpinan Gereja Lutheran anggota Komite Nasional Lutheran World Federation (KN-LWF) telah memilih Badan Pelaksana Komite Nasional Lutheran World Federation (KN-LWF) periode 2016-2020 melalui rapat pimpinan yang diadakan pada (21/1) 2016 di aula kantor Pusat GKPI Pematangsiantar. Rapat Pimpinan Komite Nasional Lutheran World Federation dihadiri 10 Pimpinan Gereja Lutheran dari 13 Gereja Lutheran yaitu: AMIN, BNKP, GKPA, GKPI, GPP, GKPPD, GKPS, HKI, HKBP dan ONKP. Rapat pemilihan yang dipimpin oleh Pdt. Oloan Pasaribu, M.Th secara mufakat menetapkan Badan Pelaksana Komite Nasional Lutheran World Federation (KN-LWF) periode 2016-2020 sebagaiberikut:

KN-LWF (Pimpinan Pusat GKPS)

Ketua                    : Pdt. Martin Rumanja, M.Si.

Wakil ketua         : Pdt. Elson Lingga, M.Th.

Bendahara           : Pdt. OloanPasaribu, M.Th.

Dua mitra kerja KN-LWF hadir pada acara itu yakni Glenice Hartwich dari Lutheran Church of Australia (LCA) dan Rev. Dr. Philip Baker dari Evangelical Lutheran Church of America (ELCA). Glenice mengatakan, LCA telah lama melakukan partnership dengan gereja-gereja, dan banyak teman-teman saya. Partnership dibangun bukan hanya satu sisi tetapi dua sisi yaitu membangun kebersamaan, dan kami di Australia banyak belajar dari Indonesia. Beberapa Gereja di Barat sudah berkurang jemaatnya, sedangkan di Indonesia jemaat masih sangat banyak, bahkan jutaan. Banyak gereja Barat ingin kerja sama dengan gereja di Indonesia. Kita harus saling menguatkan di dalam Kristus dan mengarahkan perjalanan ke tujuan yang sama dengan saling menolong satu sama yang lain.

Kami melihat sekarang ini KN LWF sebagai mitra untuk partnership. Sebagai persekutuan, apa yang dibagikan dapat mendorong kita semua untuk menjadi lebih baik. Dunia berubah karena berbagai masalah, tapi iman kita perlu dikuatkan secara bersama. Bila dibandingkan dengan Australia, maka perbedaan sangat besar. Kami mempunyai masalah bagaimana mengikut Yesus saat ini. Sementara konteks Indonesia adalah masyarakat plural. Konteks ini akan sangat berbeda bila dibandingkan dengan Australia, maka perbedaan sangat besar. Konteks ini akan sangat mempengaruhi partnership kita. Partnership adalah kerjasama, bukan memberi atau menerima.

Selama 4 tahun, LCA membantu sekolah-sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh gereja-gereja melalui pelatihan guru/kepala sekolah, school partnership dan teacher/student exchange. LCA juga membantu mengembangkan teologi Lutheran melalui Lutheran Identity, memberikan sabbatical leave kepada dosen teologi study ke Autralia dan beasiswa bagi beberapa Pendeta dan Dosen. Saat ini syarat TOEFL studi ke Australia untuk S2 nilai 650, S3 nilai 700. Kami akan berikan beasiswa untuk Pendeta yang mau studi di negara-negara dimana syarat TOEFL tidak tinggi.

Rev. Dr. Philip Baker menyampaikan salam dari bishop ELCA dan mengatakan bahwa KNLWF telah banyak mengadakan kegiatan antara lain pembinaan pencegahan HIV AIDS, Gender, Human Resourses and Advocacy. ELCA sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama ini. Ada beberapa tantangan yang sedang terjadi pada saat ini yaitu masalah lingkungan, kemiskinan, meningkatnya traficking, dan konflik agama.Gereja-gereja sehingga perlu bekerjasama untuk mengatasi masalah yang terjadi hingga kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Gereja bukan gedung, menara, bukan tempat beristirahat .. gereja adalah orangnya sama dengan pernyataan Luther. Ini pegangan untuk kita semua. Kita adalah gereja itu.

Pdt. Rumanja Purba menyatakan agar kerjasama dan pelayanan gereja-gereja anggota KN-LWF diteruskan dan ditingkatkan serta sekaligus menyampaikan ucapan terima kasih kepada LCA dan ELCA yang telah banyak membantu gereja-gereja Lutheran di Indonesia.


Artikel Lainnya:

Category: Berita