Ada satu fakta yang unik ketika kita bicara tentang kegunaan kopi Arabika atau yang lebih sering disebut dengan Ateng di kalangan masyarakat Simalungun khususnya daerah penghasil kopi. Beberapa tahun yang lalu (bahkan saat ini) masyarakat banyak yang percaya kalau kopi Arabika termasuk material untuk membuat bom, mesiu atau sejenisnya. Fakta ini semakin diperkuat oleh kesaksian segelintir masyarakat (lokal) yang pernah mencoba untuk meminum kopi Arabika secara langsung. Dengan rasa penasaran yang tinggi mereka mencoba mengolah kopi Arabika sendiri. Setelah dipetik-gelondong basah→pulper→fermentasi satu malam→jemur kurang lebih 6 jam→digongseng (roasting) →ditumbuk (dihaluskan)→diminum. Berdasarkan kesaksian mereka, setelah mengkonsumsi kopi Arabika justru kepala jadi pusing, asam lambung naik, sakit perut, masalah jantung dll. Kenyataan yang demikianlah (mungkin) yang membuat kopi Arabika dijuluki sebagai bahan yang mematikan. Padahal, kesalahan bukan terletak pada kopinya, melainkan kesalahan cara mereka mengolah kopi seperti yang diuraikan di atas. Perlu diketahui bahwa ada cara cukup panjang dan sentuhan khusus dalam hal pengolahan supaya menghasilkan kopi siap konsumsi.

Anehnya, meskipun masyarakat sudah mengakui “ajaran” di atas, tetap saja mereka tertarik membudidayakan kopi Arabika. Harga yang lumayan dan hampir selalu stabil mungkin saja menjadi magnet tersendiri. Ditambah lagi perawatan yang tidak terlalu rumit, biaya yang terjangkau dan pemasaran yang mudah. Masalahnya, dengan menganut “ajaran” yang demikian, apakah mereka tidak takut menjadi produsen bahan berbahaya? Atau jangan-jangan masyarakat menganggap bahwa pemerintah Indonesia pura-pura diam, untuk menjaga tersedianya stok bahan untuk pertahanan atau perang. Mungkin “ajaran” tersebut sudah merasuk terlalu dalam sehingga menjadi budaya, atau bisa jadi karena masalah uang semata sehingga budidaya kopi sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja?

Untungnya, sejak penulis bekerja di Unit usaha CUM Talenta yakni PT Tiga Raja Internasional yang berlokasi di Pematang Purba beberapa tahun yang lalu, opini masyarakat perihal kegunaan kopi Arabika bisa terbantahkan. Penulis bisa membuktikan bahwa kegunaan kopi Arabika bukanlah untuk bom, mesiu atau bahan perang lainnya. Hampir 95% kopi Arabika dikonsumsi untuk minuman kopi, memang bisa digunakan untuk bahan makanan dan juga kosmetik tetapi sama sekali tidak digunakan untuk bom. Antara bubuk kopi dan bubuk mesiu mungkin memiliki persamaan (sama-sama hitam/gelap) tetapi penulis pastikan akan terasa bedanya ketika diseduh air panas. Jika kopi Arabika diseduh air panas akan terasa aromanya yang khas dan rasanya yang luar biasa, lain halnya dengan mesiu yang disiram air panas, bisa jadi meledak, bisa jadi tidak, yang jelas hampir semua orang akan berpikir dua kali untuk mencicipinya.

Simalungun sendiri merupakan penghasil kopi Arabika yang memiliki potensi yang tinggi. Ada 4 wilayah unggulan yakni, Pematang Silimakuta, Silimakuta, Pematang Purba dan Dolok Silau. Selama 3 tahun terakhir PT Tiga Raja sudah mengumpulkan dan membeli kopi dari wilayah-wilayah tersebut melalui kelompok-unit Cum Talenta. Perlu penulis jelaskan kalau PT Tiga Raja ini merupakan sebuah Perusahaan gabungan dari 3 organisasi, mereka adalah Cum Talenta-Lisaleo’s coffee organic-Five Senses. Pada dasarnya ada dua misi bersama melalui gabungan usaha ini yakni, menerapkan perdagangan yang adil bagi petani dan mempromosikan nama Simalungun sebagai penghasil kopi specialty.

Harus kita akui bahwa nama Simalungun dalam hal penghasil kopi sudah ketinggalan jauh dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Sumatera seperti Sidikalang, Lintong ni Huta, Gayo-Takengon, Lampung dll. Hal ini disebabkan karena selama ini kopi Simalungun kebanyakan disuplay untuk memenuhi kuota kopi daerah lain. Kondisi demikian secara otomatis mengakibatkan nama Simalungun terselubung dan tidak dikenal oleh konsumen kopi yang tersebar dibeberapa Negara. Berita baiknya sejak tiga tahun yang lalu tepatnya tahun 2013, nama Simalungun sudah mulai dipromosikan di beberapa Negara khususnya Australia, Singapura dan juga Amerika. Para konsumen kopi sangat antusias dan mengakui cita rasa yang beda dari kopi Arabika Simalungun. Prestasi ini tidak lepas dari usaha kerja keras dari PT Tiga Raja dalam promosi dan pengolahan kopi dengan standart tinggi sehinggga menghasilkan kopi kualitas baik serta petani Cum Talenta yang menyuplai kopi dengan kualitas super (unggul).

Kopi Arabika Simalungun yang diproduksi oleh PT Tiga Raja memang memiliki rasa yang unik dan tentu saja enak. Penulis selaku orang yang masih masuk dalam kategori “awam” dalam urusan cicip-mencicipi kopi sudah ketagihan dengan rasa enaknya kopi Simalungun. Kombinasi aroma khas dan beberapa rasa (rasa manis, sedikit asam, pahit, tumbuh-tumbuhan dll) menjadikan kopi Arabika Simalungun terasa nikmat tak tertandingi. Enaknya kopi Arabika Simalungun mebuat banyak konsumen dari luar negeri silih berganti berdatangan mengunjungi gudang PT Tiga Raja di Pematang Purba. Bahkan sampai-sampai PT Tiga Raja sendiri tidak mampu memenuhi permintaan yang ada akan kopi Arabika Simalungun. Dibeberapa kompetisi nasional dan internasional baik itu melalui lelang kopi maupun melalui ajang kejuaraan barista, kopi Arabika Simalungun selalu mendapatkan prestasi yang memuaskan.

Namun, kita tidak bisa berpuas diri akan prestasi yang telah diraih saat ini. Bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi harga kopi Arabika Simalungun jatuh dan merugikan petani. Pasar kopi selalu diramaikan oleh persaingan, bukan hanya nasional tetapi juga internasional. Kompetitor lokal bertaraf nasional banyak datang dari wilayah tetangga seperti Lintong ni Huta, Sidikalang dan Kabanjahe ditambah dari provinsi Aceh, beberapa daerah di Jawa dll. Untuk tingkat internasional sendiri negara seperti Brasil, Kolombia, Ethiopia, Vietnam dan masih banyak lagi berlomba-lomba untuk menghasilkan kopi Arabika produk baru kualitas specialty. Kondisi ini membuat kita tidak mempunyai pilihan lain untuk bergabung dalam pertarungan demi kelanjutan kopi Arabika Simalungun. Kopi enak saja tidak cukup, harus ada inovasi dan peningkatan, baik melalui kualitas maupun tekhnik pemasaran.

TALEN2Usaha pertama harus dimulai dari level petani sebagai hulu dalam mata rantai perjalanan kopi. Perawatan seperti pemupukan, pengendalian hama dan pemangkasan pada tanaman kopi harus ditingkatkan untuk menunjang hasil yang lebih baik. Kebiasaan tidak pernah memupuk kopi harus segera dirubah. Tekhnik pertanian organik akan menambah nilai plus dan memiliki daya tarik tersendiri. Hal ini dikarenakan banyak pembeli kopi yang memperhatikan masalah lingkungan seperti isu global warming. Selain itu, proses pengolahan kopi juga harus lebih diperhatikan. Salah satu masalah klasik yang masih sering terjadi adalah tahap pemetikan. Dianjurkan untuk memetik buah yang benar-benar matang saja untuk membuat rasa kopi lebih manis. Perlu diketahui memetik buah yang belum matang selain dapat merusak cita rasa kopi itu sendiri juga bisa merusak kesinambungan tanaman kopi. Banyak petani yang mengeluh kenapa tiba-tiba produksi per batang kopi menurun, tanpa menyadari penyebabnya adalah kesalahan pada pemetikan.

Selanjutnya adalah penataan organisasi atau kelompok tani di setiap wilayah pelayanan dalam hal ini unit Cum Talenta. Semakin baik dan transparan sebuah kelompok atau unit penyuplai kopi maka semakin meningkatkan kepercayaan konsumen untuk membeli kopi. Banyak pembeli kopi berpendapat bahwa dengan membeli kopi dari kelompok yang terorganisasi dengan baik akan menjadi nilai promosi yang dapat meningkatkan penjualan. Sekarang ini, Cum Talenta memang gencar-gencarnya melaksanakan program kemandirian kelompok untuk lebih memaksimalkan usaha peningkatan ekonomi jemaat. Diharapkan nantinya semua unit memiliki kelompok tani resmi yang melaksanakan kegiatan usaha bersama demi kemajuan bersama.

Apabila level petani dalam hal perawatan/pengolahan kopi dan penataan organisasi sudah tuntas, maka tahap berikutnya adalah upaya PT Tiga Raja untuk menciptakan dan mempromosikan produk baru. Memang secara umum kopi dari Sumatera atau Simalungun khususnya terkenal dengan proses penjemuran dengan kualitas basah atau lebih sering dikenal dengan Wet Dry. Meskipun sistem proses tetap menggunakan tekhnik yang lama, namun harus tetap dicari faktor penunjang lain untuk membuat produk baru. Contoh baru-baru ini yang dilakukan adalah pemasaran produk khusus dengan cara pemisahan hasil kopi per wilayah yang dianggap paling unggu. Atau hal lain yang mungkin dilakukan adalah perhatian khusus terhadap proses penjemuran, contohnya dengan menggunakan “para-para”. Dapat disimpulkan bahwa produk baru ini merupakan suatu adaptasi terhadap perkembangan dan kebutuhan dunia kopi.

Berikutnya yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara membuat kopi Arabika Simalungun tetap eksis (bertahan) dalam ruang lingkup yang lebih luas. Banyak faktor yang mempengaruhi bertahan atau tidaknya kopi Arabika Simalungun. Apabila promosi dan peningkatan kualitas hanya dilakukan oleh PT Tiga Raja, maka tingkat eksistensi kopi Simalungun kurang maksimal. Harus ada pihak ketiga (seperti NGO) dan eksportir lain yang berkontribusi. NGO diharapkan dapat membantu petani dalam mengatasi masalah-masalah dalam budidaya kopi. Sementara itu, apabila ada eksportir lain yang juga menjual kopi Arabika dengan nama Simalungun, perlu dicatat, harus dipastikan memiliki kualitas yang baik dan tracebility yang dapat dipertanggungjawabkan. Apabila norma ini dilanggar, maka ketika kualitas kopi yang dipasarkan tidak memenuhi kriteria kopi Simalungun yang telah dikenal, justru akan menjadi bumerang bagi kesinambungan kopi Arabika Simalungun.

Yang terakhir adalah dukungan dari pemerintah secara khusus dalam hal kemudahan pengurusan izin dan dokumen yang berkaitan dengan ekspor. Berdasarkan pengalaman, adakalanya PT Tiga Raja kesulitan untuk mengurus dokumen-dokumen yang berkaitan dengan urusan pengiriman. Baik itu melalui jadwal pelayaran, bongkar-muat maupun perizinan lainnya. Dapat dibayangkan apabila pengiriman terlambat dilaksanakan dari jadwal yang telah disepakati dalam kontrak maka berpotensi membuat pembelian kopi petani jadi terkendala. Diharapkan demi kebaikan bersama ke depan ada sebuah sistem yang baru yang memudahkan pelaksanaan pengiriman kopi.

Beberapa poin di atas merupakan garis besar tugas dan tantangan yang sangat mungkin kita hadapi dalam dunia kopi. Semua pihak dengan fungsinya masing-masing yang tergabung dalam mata rantai perdagangan kopi harus bekerja sama untuk meningkatkan kopi Arabika Simalungun demi terjaganya harga yang stabil bahkan diharapkan meningkat. Sekedar mengingatkan, pada tahun 2013 lalu, hampir semua petani kopi frustasi ketika harga kopi jatuh pada level Rp. 9.000/Kg. Tidak sedikit petani yang mengganti tanaman kopi dengan tanaman yang lain. Banyak juga petani yang bertanya apakah mereka masih bisa menggantungkan harapan pada kopi. Memang, kita tidak tahu kapan “badai” ini datang lagi untuk memberikan cobaan pada dunia kopi. Namun, langkah-langkah yang telah disebutkan di atas merupakan strategi kita untuk mempesempit ruang bagi “badai” tersebut untuk kembali.

Sebagai penutup penulis kembali menegaskan bahwa kegunaan kopi Arabika atau Ateng itu bukanlah untuk bom melainkan untuk konsumsi. Kopi adalah minuman primadona di luar sana. Ketika kita belum bisa menjadi konsumen kopi Arabika yang baik maka jadilah produsen kopi yang baik. Semakin petani memberikan yang terbaik pada kopinya maka semakin baik pula hasilnya, semakin baik pula pengaruhnya untuk nama Simalungun dan diharapkan dapat memberikan efek positif secara ekonomi maupun pertanian kopi itu sendiri. Akhir kata kami dari PT Tiga Raja menghimbau kepada seluruh petani kopi Simalungun “Ayo rawat kopi anda”.


Artikel Lainnya:

Category: Berita