IMG_0657

Aku Bisa, Kita Bisa!

Aku Bisa, Kita Bisa! 2 gkps

Aku Bisa, Kita Bisa!

Perayaan Hari Difabel Internasional di GKPS

Bulu Pange – Pematang Raya 1903, Tanggal 3 Desember 2015

Ada yang tidak biasa pada hari ini, di awal bulan Desember yang akrab dengan hujan hari ini sungguh cerah dan matahari bersinar terang.

GKPS Bulu Pange menjadi lokasi awal perayaan hari difabel internasional sudah dipenuhi dengan 50 an becak yang berbaris yang akan membawa para peserta perayaan menuju GKPS Pematang Raya 1903. Para penyandang difabel, orang tua, keluarga, para undangan dan panitia yang mendapat pengawalan ketat oleh Polsek Simalungun dan Patwal mengikuti pawai bersama ini. Anak-anak sekolah minggu GKPS Kongsi Laita juga ikut memeriahkan perayaan ini. Mereka bernyanyi sepanjang perjalanan.

Pawai dimulai dengan doa yang dilaksanakan di dua tempat, yaitu di lokasi pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan RBM GKPS oleh Pdt. Jonny Hotlan Purba dan di GKPS Bulu Pange yang dipimpin oleh Pdt. Vivia Perpetua Purba, Praeses Distrik 2.

Pawai berjalan dengan meriah, disambut oleh Tim Marching Band SMA GKPS Pematang Raya di  Hapoltakan. Anak-anak sekolah keluar ke jalan , demikian juga masyarakat. Kemacatan yang tidak biasa membuat masyarakat bertanya, apa yang sedang terjadi? Tapi banyak yang kemudian berujar, “Hari difabel ini adalah hari kita bersama, terutama hari yang istimewa bagi penyandang difabel. Kita harus ikut mendukung dan merayakannya. Tidak pernah seperti ini terjadi di Raya ini sebelumnya.”

Memang benar, salah satu tujuan perayaan hari difabel internasional ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kaum difabel sehingga terbangunlah kemitraan di antara para stakeholders dan masyarakat menuju masyarakat yang inklusi.

Perayaan puncak dilaksanakan secara sederhana tetapi penuh sukacita di GKPS Pematang Raya 1903. Dihadiri oleh 180 penyandang difabel dengan 400 an undangan yang hadir. Perayaan puncak dimulai dengan ibadah bersama. Ada yang unik di dalam ibadah ini karena yang menjadi pembawa firman adalah seorang penyandang difabel dari Sondi Raya yang bernama Fandi Barita Sitanggang (20 tahun). Fandi membaca firman Tuhan dari  2 Korintus 12 : 9 : “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku’, dan melanjutkan dengan membaca puisi dan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri yang berjudul “Talenta” .

Aha do hinan halangankin mambahen ahu sonon tubuh ibagas hahurangan

Hujama das ni goluh na songon pargoluhankon

Lang tarbahen lang tangiskin marganjang-ganjang

Naha ma holi au mardingat sitaronon on,

hujama das ni goluh na songon pargoluhankon

                                Ondos bamu ma au Tuhan, angkula na dalmet

                                Pargogohi Ham ma au marmalas ni uhur manjalo hahurangan on

                                Ondoskononku ma homa diatei tupa hinorhonni layakMu

                                Marhitei goranMu mambere bangku talenta

Setelah ibadah, perayaan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Ketua Panitia Ibu Sy. Julianna Saragih, dari Pimpinan Pusat GKPS yaitu Pdt. DR. Paul Ulrich Munthe (Sekretaris Jenderal), mewakili pemerintah, mewakili undangan yaitu Kepala Sekolah SMA GKPS Pematang Raya dan Kepala Sekolah SMK GKPS Pematang Raya yang ikut menyerahkan sumbangan dari anak-anak murid dengan menyisihkan uang saku mereka. Diikuti dengan pemotongan roti dan pelepasan balon oleh anak-anak difabel.

Setiap pujian, tarian, dipersembahkan oleh penyandang difabel dari seluruh daerah Siantar-Simalungun. Semua orang bersuka cita, semua orang terlibat. Semangat, rasa percaya diri dan kebersamaan para penyandang difabel pun semakin kuat. Tidak ada persaingan walaupun mereka mengikuti berbagai lomba dan permainan. Mulai dari perlombaan makan kerupuk, makan telur rebus, menendang bola ke gawang, sampai kepada perlombaan seni dan budaya, seperti lomba umpasa Simalungun, fashion show pakaian adat Simalungun dan pakaian kasual, lomba melukis dan mewarnai. Semuanya menang, semuanya tertawa, tidak ada perbedaan. Semua mendapat hadiah, semua mendapat bingkisan.

Perayaan hari difabel ini ditutup dengan ucapan terimakasih oleh seorang penyandang difabel, St. Jamasdin Damanik, ST, wakil pengantar jemaat GKPS Silau Marihat. Ia mewakili seluruh penyandang difabel yang hadir untuk mengucapkan terima kasih karena perayaan ini adalah sebuah pelayanan yang sungguh menyentuh hati para penyandang difabel, karena mereka diingat, diperhitungkan, diperhatikan dan dikasihi.

Hari ini adalah hari difabel internasional, sebuah momentum besar untuk mengubah cara pandang bahwa para penyandang difabel tidak berdaya, tidak memiliki kemampuan untuk berkarya dan posisinya berada di bawah strata dan kelas yang berbeda. Mereka ada di tengah-tengah masyarakat, hidup bersama kita, yang mampu berkreasi dan memiliki banyak kelebihan. Perayaan inipun menjadi saat yang tepat bagi para penyandang difabel untuk mengkreasikan diri mereka, menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri untuk ikut serta di tengah-tengah masyarakat : Aku Bisa, Kita Bisa, karena kasih dan kuasa Tuhan!  . Semangat itu pun dikuatkan bersama dengan doa yang dilantunkan lewat lagu mars difabel  “Puji Syukur” (cipt. St. Sahman Purba)

Puji Syukur pada Allah Bapa, karena kasihMu kepadaku

Dalam kekurangan ada kelebihan, kuyakin akan kuasaMu

Kupercaya pada rencanaMu, walau tak dapat ku mengerti

Aku tak menyerah dan selalu berharap, masa depan terukir indah

Ku mampu, Ku bisa, jalani hidup bersamaMu,

Engkaulah kuatku, Kau menopang kehidupanku

 

 

 

 


Artikel Lainnya:

Category: Berita, Distrik 2